Senin, 26 Januari 2015

AWASSS......Jangan Bermain Api Kalau Tidak Ingin Terbakar

Keluarga adalah satu2 nya tempat paling nyaman berteduh dari dunia yang semakin semrawut ini. Sebelumnya saya mohon maaf, tulisan ini tidak ditujukan untuk seseorang. Tapi untuk siapapun yang masih peduli dengan sekitar, dengan cara saling mengingatkan. Mau mengakui atau tidak, banyak kejadian (kalau gak boleh disebut kebiasaan) di keseharian yang kita anggap biaya-biasa aja tapi nyatanya menimbulkan akibat yang tak terbayangkan sebelumnya.

Hari ini menerima kabar kurang menyenangkan, seorang rekan perempuan BATAL menikah. Lebih tepatnya sih "ditunda sampai waktu yang belum ditentukan". Blarrrr........., rasanya kaget-kaget gimana gitu mendengarnya.
Sempat berhembus kabar kalau dia MBA, alias married by accident.  Dan yang lebih bikin nganga lagi, ternyata calon suaminya ini masih bersatus suami dan ayah dari 2 oang anak!

Waduhhh....mau menikah sesama bujang aja butuh banyak kesiapan apalagi yang begini?. Menikah sesama single aja masih butuh penyesuaian seumur hidup. Yang pastinya ada friksi, beda sudut dangan, ribut2 kecil  dan sebagainya. Yaa..namanya dua kepala mesti satu tujuan. Lha gimana kalau mesti berbagi hati, berbagi suami?. Gak sanggup membayangkan, entah bagaimana galaunya dia saat ini.


Saya tidak bermaksud men-judge seseorang. Meskipun mau dilihat dari sisi mana saja (dari segi agama atau sosial masyarakat) , apa yg dilakukannya ini jelas-jelas tidak dapat dibenarkan tetapi kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi didepan. Siapapun bisa mengalami nya. Karena selama masih di dunia, setan masih saja akan merecoki kita.

Masalahnya, cerita semacam ini sudah sering kita dengar. Saya sampai miris tiap kali ada berita di tv tentang remaja yang mencoba aborsi akibat percintaan di usia dini, asmara yang berakhir di kepolisian karena tuntutan kekasih yang kadung berbadan dua, bayi yang dibuang karena orang tuanya malu akibat hasil hubungan gelap, perselingkuhan dll. Tapi mengapa terulang lagi, dan lagi??


Kalau sudah tahu bahwa bermain api itu resikonya terbakar, kenapa malah memasukkan tangan dalam bara??  Jelas-jelas tahu bahwa apa yang dilakukannya keliru, kenapa terus nekad?. Sesuatu yang awalnya coba2 lantas keterusan jadi kebiasaan.
Bukankah apa yang sejak awal sudah dilandasi niat tidak baik, selamanya tidak akan memberi hasil yang baik pula??.


Kita terlanjur punya anggapan bahwa apa yang biasa dilakukan oleh banyak orang itu adalah suatu kewajaran dan "dianggap" benar. Bagaimana tidak, televisi kita menyiarkan acara yang materinya beberapa gadis yang saling memperebutkan cowok idaman untuk jadi kekasihnya (catet: kekasih alias pacar) pada jam-jam primetime. Atau sinetron yang mengajarkan anak2 SD udah bisa cinta2 dan gaya hidup serba instan (ini bahasa saya). Saya sebut instan karena isinya melulu cowok-cowok kaya (yang gak jelas apa kerjanya) yang jadi idola, punya harta yang gak habis dimakan tujuh turunan. Dan tontonan seperti ini malahan yang ratingnya bagus. Jadilah remaja-remaja putri kita "cinderella" dijaman modern. Mengharap pangeran berkuda putih menjemput untuk dijadikan permaisurinya.

Lets be smart, sama-sama belajar jadi orang tua yang lebih bijak. Lingkungan punya peran paling besar untuk membentuk karakter seseorang setelah keluarga. Kita mungkin tak akan mampu membendung perubahan, tapi kan tidak harus terbawa arus?. Landasan agama yang kuat mutlak adanya. Dan sebagai ujung tombak keluarga, sebagai orang tua tentunya kita harus tegas memilah mana yang sesuai untuk keluarga kita.



6 komentar:

  1. Enakan cari yang masih bebas, wong jumlahnya juga banyak kok
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  2. Ya betul Pakde....dunia ini kan luas, ya..

    BalasHapus
  3. stuju..tuh... landasan agama harus lebih kuat... tak hanya bujang gadis... Yang udah menikah pun mesti berhati2..salah satu caranya jangan curhat ke lawan jenis...terutama curhat yentang pasangan hidup,,,ujung2nya bisa memercikkan api perselingkuhan,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih udah post koment nya Mba' Nova Novii

      Hapus
  4. Ampun deh temannya....yang lajang aja banyak koq milih berhubungan dengan suami orang sih....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hidup memang penuh dengan pilihan ya Pak Edi Padmono

      Hapus