Rabu, 29 April 2015

Belajar Tak Kenal Usia

Saat memutuskan untuk kuliah di usia yang tak lagi muda, banyak teman-teman yang menertawakan saya. Beberapa bahkan berkomentar, yang membuat saya geleng-geleng kepala.

"Hadehhh.....otak mu apa masih bisa buat mikir gitu an?"

"Mending duitnya buat sekolahin anak, bentar lagi kan udah  SMP?

"Daripada buat kuliah, apa gak mending duitnya buat kursus rias, kan bisa menuñjang kerjaanmu"

"Ngapain repot-repot kuliah lagi, emang mau *nyaleg? (*nah.....ini nih yg bingung mesti jawab apaan?).

Meski pengen ketawa, saya sih maklum aja denger komentar mereka. Gimana tidak, saya mulai kuliah di usia 35 tahun!. 17 tahun setelah lulus dari SMA, sudah menikah, bekerja, punya suami bertanggung jawab penuh termasuk soal financial, jadi ibu dari 3 orang anak yg mulai beranjak remaja. Lantas.....mengapa mau repot-repot mikir soal Matematika Bisnis, Pengantar Ekonomi Makro atau Aspek Hukum Dalam Ekonomi?

Ya....buat saya, kuliah bukan hanya untuk mendapat gelar sebagai bekal untuk bekerja. Toh untuk jadi perias seperti sekarang saya gak harus bergelar S1 dulu. Lebih dari itu, menimba ilmu untuk merubah pola pikir sehingga hidup lebih berkualitas. Belajar kan gak mengenal waktu dan tidak ada masa kedaluarsanya. Selagi masih punya nafas, banyak hal yang masih harus kita pelajari. Otak kita bisa jadi seperti gadget, kalau gak pernah di upgrade mungkin saja masih bisa bekerja tapi loadingnya lama alias lemot. 
 
Diantara teman kampus yang membuat saya merasa sekian taun lebih muda. hehehe....

Dan akhirnya pada 2014 lalu saya mengambil keputusan #BeraniLebih dengan mendaftar sebagai mahasiswa di salah satu universitas swasta di Tuban. Banyak diantara rekan2 yang usianya hampir sebaya dengan keponakan saya. Bahkan beberapa dosen merupakan teman semasa SMA. Meskipun tidak mudah juga, karena saya harus memanfaatkan waktu sebisa mungkin. Jangan sampai kesibukan baru ini membuat tugas utama sebagai ibu rumah tangga terbengkalai.

Saya berkeyakinan, tidak ada ilmu yang akan sia-sia. Meskipun status utama sebagai ibu rumah tangga, saya merasa berkewajiban untuk terus belajar. Saya harus bisa memutus urat malu dengan bergabung dengan mereka yang usianya jauh lebih muda, dan harus bisa melakukannya. Berkompetisi dengan diri sendiri untuk #BeraniLebih maju meskipun status saya kini menjadi MAPALA alias mahahasiswa paling tua. Hehehehe...


Akun fb : Ila Yatifa
Twitter   : @MrsGopel

Tulisan ini diikutkan dalam Kompetisi #BeraniLebih yang di selenggarakan oleh LightofWomen